Berita

“Hari Sibuk di Layanan Sirkulasi Perpustakaan”

Pagi itu, suasana perpustakaan masih tenang. Cahaya matahari menembus kaca besar di sisi timur ruangan, menciptakan bayangan lembut di antara rak buku yang berjajar rapi. Di meja sirkulasi, Rani — petugas perpustakaan — sudah siap dengan senyum ramah dan komputer layanan yang menyala. Hari ini, ia tahu akan menjadi hari yang sibuk karena mahasiswa baru mulai berkunjung untuk mengurus keanggotaan mereka.

Tak lama kemudian, seorang mahasiswa datang membawa beberapa buku.
“Selamat pagi, Kak. Saya mau meminjam buku ini,” ujarnya dengan ragu.
Rani tersenyum. “Boleh, tapi sebelumnya sudah punya kartu anggota perpustakaan?”

Mahasiswa itu menggeleng. Maka, Rani pun menjelaskan dengan sabar bagaimana cara mendaftar: mengisi formulir, menyerahkan fotokopi kartu mahasiswa, dan menunggu pembuatan kartu anggota. Sambil menunggu, Rani membantu mahasiswa lain yang datang untuk mengembalikan buku. Ia memeriksa tanggal pengembalian di sistem dan menemukan satu buku yang terlambat dua hari.

“Maaf ya, ada denda dua ribu rupiah untuk keterlambatan,” katanya lembut. Mahasiswa itu mengangguk dan membayar dengan senyum malu. Bagi Rani, interaksi kecil seperti ini adalah bagian penting dari pekerjaannya — bukan sekadar mencatat data, tapi juga menjaga agar pengguna merasa dihargai dan dipahami.

Menjelang siang, antrean mulai berkurang. Rani menyempatkan diri menata ulang rak return shelf dan memastikan semua buku yang dikembalikan sudah tercatat dengan benar. Ia juga mengecek sistem agar stok buku di katalog daring sesuai dengan kondisi di rak.

Menjelang sore, perpustakaan kembali tenang. Rani duduk sejenak sambil menatap ruang baca yang kini dipenuhi mahasiswa belajar. Ia merasa puas — layanan sirkulasi yang dijalankan hari ini berjalan lancar. Baginya, setiap buku yang berpindah tangan adalah jembatan pengetahuan, dan setiap senyum pengguna perpustakaan adalah bentuk apresiasi atas dedikasinya.

Translate »