DI SUDUT MANA
Di sudut perpustakaan yang paling jarang dilalui, ada sebuah meja kayu tua yang setia menghadap jendela. Cahaya matahari jatuh lembut di atas permukaannya, menyelinap di antara debu-debu halus yang menari pelan. Kursinya sederhana, sedikit berderit saat diduduki, tetapi justru di sanalah rasa nyaman itu bermula—seolah dunia luar sepakat untuk meredam suaranya.
Rak-rak buku berdiri seperti penjaga sunyi, menyimpan ribuan kisah yang tak menuntut untuk segera dibaca. Aroma kertas lama bercampur dengan ketenangan, membuat waktu berjalan lebih lambat. Di sudut itu, halaman demi halaman dibuka tanpa tergesa, pikiran beristirahat tanpa perlu alasan. Tak ada tuntutan, tak ada kebisingan—hanya aku, buku, dan keheningan yang terasa akrab.
Sudut ternyaman di perpustakaan bukan sekadar tempat duduk. Ia adalah ruang aman, tempat lelah boleh singgah, tempat kata-kata menemukan pembacanya, dan tempat sunyi berubah menjadi teman.



